Tampilkan postingan dengan label Animal Husbandry Reference. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Animal Husbandry Reference. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 September 2012

Cara Unik Menangkap Ikan dengan Itik "Cormorant Fishing"

7 komentar:

Menangkap ikan biasanya identik dengan memancing, menjaring/menjala, menombak dan yang pasti menggunakan alat serta peralatan dari yang tradisional hingga modern. Namun di Cina ada trik tersendiri dalam menangkap ikan, yaitu....dengan menggunakan itik yang biasa disebut “Cormorant Fishing” Hmmm.....terbayang enggak sobat cara menangkap ikannya gimana? Hihihi.....

Cina memang dikenal dengan kecerdikannya, sehingga tak jarang dapat mengadidaya apa yang bisa dimanfaatkan mereka. Sampai-sampai hewan juga digunakannya sebagai ternak kerja (DAP= Drap Animal Power).

Selasa, 19 Juni 2012

The introduction of livestock feed

9 komentar:
Image by Hendro
Pengenalan berbagai bahan pakan ternak yang mana melakukan pengamatan terhadap ciri-ciri dari warna, bentuk, rasa, dan bau diupayakan agar kita dapat memahami dan mengenal kondisi bahan pakan ternak yang berkualitas baik dengan melihat dari ciri-ciri tersebut melalui indera manusia. Nah....di sini saya memberikan ccontoh berbagai bahan pakan ternak yang terdapat di Indonesia pada umumnya, baik bahan pakan sumber protein, energi, mineral, kalsium, dan lain sebagainya. Bahan pakan ini sudah saya amati dalam kegiatan praktikum mata acara "Bahan Makanan Ternak dan Formulasi Ransum". Berikut uraiannya : 

Minggu, 15 Januari 2012

Struktur dan Komposisi Telur

8 komentar:
Telur pada dasarnya adalah bakal calon individu baru yang dihasilkan dari individu betina. Bila terjadi pembuahan maka telur akan berkembang menjadi embrio dan selanjutnya terbentuk individu baru setelah lahir atau menetas.
             Istilah telur merujuk pada sel telur yang berkembang pada saluran reproduksi aves betina. Karena komposisi telur merupakan zat nutrisi yang edibel maka selanjutnya telur diproduksi untuk konsumsi manusia. Bahkan telah lama berkembang teknologi peternakan (terutama rekayasa genetika dan nutrisi) yang menghasilkan ayam yang hanya bertelur dan selanjutnya menjadi industri telur. Telur yang biasa dikonsumsi saat ini berasal dari ayam-ayam yang ”diciptakan” khusus untuk selalu bertelur yang disebut dengan ayam ras petelur. Namun demikian jenis ayam ataupun unggas lainnya juga bisa menghasilkan telur baik yang dibuahi maupun yang tidak dan dijadikan bahan makanan bagi manusia dengan tingkat kualitas yang relatif sama.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Peralatan Tilik/judging Kambing Perah

Tidak ada komentar:
Tilik(Judging/Penilaian) adalah keterampilan dasar yang penting untuk menjadi seorang manajer peternak yang sukses. Keterampilan ini digunakan dalam pemilihan dasar hewan-hewan , ketika membuat keputusan membeli dan menjual, pemusnahan, memilih indukan dan daerah lain dari manajemen peternak.

Selasa, 16 Agustus 2011

Padang Penggembalaan (Pasture)

Tidak ada komentar:

Padang penggembalaan merupakan sumber penyediaan hijauan yang lebih ekonomi dari murah. Padang penggembalaan merupakan tanaman hijauan secara langsung dan bisa dimakan oleh hewan. Padang penggembalaan tersebut bisa terdiri dari rumput seluruhnya atau leguminose saja, ataupun campuran. Tetapi suatu padang rumput yang baik dan ekonomis ialah yang terdiri atas campuran rumput dan leguminose.
Sapi-sapi dara atau dewasa atau yang digemukkan ataupun sapi perah biasanya merumput di padang penggembalaan selama musim penghujan, pada saat tanaman tumbuh baik. Dan hanya kualitas pangonan yang baiklah yang mampu memperbaiki produksi serta mutu terhadap sapi potong ataupun sapi perah dan pekerja, sehingga sapi-sapi tersebut akan menghasikan daging, susu ayng tinggi serta tenaga kerja yang tangguh.
Pada umumnya pemeliharaan sapi, baik sebagai sapi potong ataupun perah yang digembalakan di lapangan, akan lebih murah daripada pemberian makanan penguat, karena :
a.       Tenaga kerja yang diperlukan untuk mengurusi perawatan ternak lebih sedikit, sebab hewan langsung merumput di padang penggembalaan sendiri.
b.      Rumput adalah paling miurah diantara hijauan-hijauan lain.
c.       Menhurangi penggunaan feed-suplement protein yang harganya sangat mahal
d.      Hewan-hewan yang digembalakan sekaligus akan memupuk tanaman tersebut dengan kotoran mereka.
Karena padang penggembalaan kegunaannya sangat efesien, maka padang penggembalaan tersebut harus dikelola atau dipiara sebaik mungkin, sehingga hasilnya bisa menyediakan makanan secara optimal sepanjang waktu.
Beberapa cara pengelolaan yang perlu diperhatikan, khususnya mengenai pengaturan pemotongan rumput, agar bisa diperoleh suatu produksi yang kontinu. Dengan demikian, baiklah apabila cara melakukan defoliasi itu diatur dengan memperhatikan pada :
1.       Pemotongan tahun-tahun pertama
Pemotongan pada tahun pertama harus hati-hati, cukup dilakukan secara ringan atua tidak dipotong sama sekali. Hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan awal rumput penggembalaan bisa terjamin.
Apabila rumput ini hendak dipotong, haruslah dilakukan dengan cara meninggalkan pangkal batang ± 7,5 cm dari tanah, dimana hasil potongan tersebut bisa dipergunakan sebagai bahan silage atau hay.
2.       Pemotongan bergilir (alternate grazing) atau sistem rotasi
Sistem ini biasanya dilakukan dengan cara membagi-bagi areal pangonan menjadi petak-petak yang lebih sempit (paddock) sesuai dengan maksud peternak, sehubungan dengan jumlah ternak yang digembalakan, pertumbuhan hijauan serta kelebatannya. Pada umumnya padang pangonan itu dibagi menjadi dua atau empat areal.
3.       Penggembalaan berat (over-grazing) harus dihindarkan
Pelaksanaan penggembalaan berat yang tidak terkontrol akan merugikan, akibat daya tampung pada penggembalaan yang tak sesuai. Hal ini akan membawa akibat produksi berikutnya rendah, pertumbuhan kembali lemah, yang akhirnya banyak tumbuh rumput liar (weed), bahkan bisa menimbulkan erosi tanah.
4.       Defoliasi yang terlalu ringan (under-grazing) pun harus dihindarkan
Praktek-praktek defoliasi semacam ini pun juga akan merugikan, maka hal tersebut harus dihindarkan. Sebab hijauan menjadi terlalu tua, serat kasar tinggi dan kurang palatable dan nilai gizinyaa sanagt rendah.

Sumber : AAK, 1985. Hijauan Makanan Ternak.

Kamis, 07 Juli 2011

Perbedaan Mutu Hijauan

Tidak ada komentar:

Pada dasarnya perbedaan mutu hijauan dipengaruhi oleh dua faktor, yakni sifat genetis (pembawaan) dan lingkungan.
1.       Faktor pembawaan
Di sini bisa dikemukakan suatu contoh, bahwa bangsa gramineae (bangsa rumput) mempunyai pembawaan yang berbeda dengan bangsa leguminose. Rumput memerlukan nitrogen yang diperoleh dari dalam tanah dengan jalan menghisap nitrat atau amonia yang larut dalam air. Sebaliknya leguminose menambahkan nitrogren ke dalam tanah, karena adanya bakteri- bakteri pada bintil-bintil akar. Leguminose umumnya kaya akan protein, Ca dan P bila dibandingkan dengan bangsa gramineae atau hijuan lain.
Dan sesama bangsa leguminose sendiri tidak akan memiliki mutu yang sama, masing-masing memiliki nilai gizi yang berbeda. Misalnya hijauan daun lamtoro lebih kaya akan unsur protein bila dibandingkan dengan daun turi, demikian selanjutnya.

2.       Faktor lingkungan
Faktor lingkungan mempunyai peranan sangat penting. Mutu yang ada pada setiap jenis hijauan yang diwariskan oleh sifat genetis, hanya mungkin bisa dipertahankan atau ditingkatkan apabila faktor lingkungan seperti keadaan tanah, iklim dan perlakuan manusia sendiri memadai 

a.      Keadaan tanah atau daerah
           Mutu hijauan makanan ternak, pada setiap tempat, akan berbeda menurut daerah atau jenis tanahnya. Hal ini masing-masing dipengaruhi oleh subur tidaknya tanah, kaya tidaknya unsur hara yang terdapat di dalamnya. Semakian tanah kaya akan unsur hara, semakin tanaman hijauan akan menjadi subur, bermutu dan berproduksi tinggi. Sebab zat-zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan bisa terpenuhi. Kesuburan tanah dapat dipelihara atau ditingkatkan dengan cara pengelolaan yang baik, termasuk pemberian pupuk hijau, kompos, pupuk kandang dan pupuk buatan.
  
       b.      Pengaruh iklim
             Indonesi terletak di daerah tropis, sehingga pada garis besarnya tak begitu banyak dipengaruhi oleh perubahan iklim, seperti halnya di daerah sub-tropis.Namun demikian, karena luasnya negara kita dan terdiri dari banyak pulau, maka dalam kenyataannya timbul perbedaa-perbedaan kondisi. Misalnya di daerah pantai dan pegunungan, bagian Timur lebih kering daripada bagian barat. Hal ini mengakibatkan pula perbedaan kondisi tanah serta vegetasinya. Sehubungan dengan keadaan iklim yang berbeda-beda ini dapat dicatat adanya : 

Iklim yang sangat basah
Daerah ini kurang baik bagi ternak. Hijauan yang dihasilkan kurang mengandung protein dan mineral, serta lebih banyak kadar seratnya tetapi bahan keringnya rendah. Apalagi bila tanaman ini pemotongannya lambat.

Di daerah yang tak begitu basah
Di daerah ini terdapat banyak padang rumput yang luas, rumput tumbuh tinggi dan pepohonan kurang. Daerah semacam ini dikena sebagai daerah sabana. Daerah inilah yang baik untuk mengusahakan peternakan. 

Daerah kering
Daerah yang beriklim kering hanya ditumbuhi oleh rumput pendek-pendek. Daerah ini dikenal sebagai daerah stepa atau hutan belukar. Di daerah yang beriklim kering ini matahari bersinar sangat terik, udara kering, cuaca terang, perbedaan suhu dalam sehari sangat menyolok, curah hujan kurang, walaupun kadang-kadang terdapat hujan lebat. Di sini ternak sering menghadapi kesulitan mendapatkan makanan dan air. Di daerah semacam ini usaha ternak akan lebih cocok dari pertanian khusus, misalnya di Madura dan Nusa Tenggara. Jika daerahnya kering lebih baik dipelihara sapi, atau daerah yang sangat kering kambing masih bisa bertahan.
Dengan demikian, secara tidak langsung, iklim dapat pula mempengaruhi kehidupan ternak. Iklim bisa menentukan jumlah serta mutu bahan makan. Di daerah basah, tanaman hijauan dewasa cepat cepat menjadi mundur mutunya. Kadar air hijauan terlalu tinggi, sehingga ternak tak cukup banyak mencari makanan yang kandungan bahan keringnya tinggi.

c.       Perlakuan manusia (management)
Perlakuan yang dimaksud disini ialah menyangkut pengaturan waktu pemotongan serta cara-cara pengelolaan yang baik dan teratur.
·          
      Pengaturan waktu pemotongan
Semakin lambat suatu tanaman itu dipotong, kandungan serta kasarnya akan semakin merosot, karena banyak zat makanan yang hilang, atau diubah menjadi buah/biji.
Demikian pula sebaliknya, apabila pemotongannya dilakukan agak awal atau dilakukan dalam interval pemotongan yang pendek, hijauan itu akan selalu dalam keadaan muda.
Hijauan muda kandungan proteinnya cukup tinggi, tetapi kadar airnya juga tinggi, sedangkan kandungan bahan keringnya rendah. Oleh karena itu perlu dipikirkan waktu pemotongan (defoliasi) yang optimal, sehingga nilai gizi hijauan tersebut cukup tinggi.

·         Cara pengelolaan yang baik
Semakin teratur cara pengelolaan suatu tanaman akan semakin baik pengaruhnya terhadap pertumbuhan, produksi, dan mutu hijauan. Pengelolaan tanaman hijauan yang dimaksud di sini adalah merupakan perlakuan manusia sendiri.

Diagram Pengaruh Lingkungan terhadap Tanaman Hijauan


Sumber (AAK;1983)



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...