Pakan Ternak "Sumber Protein Asal Hewan"

Ada berbagai macam jenis hewan yang merupakan sumber protein dalam pakan ternak termasuk juga limbah dari pengolahan hewan seperti tulang dan lainnya 

1. Tepung ikan (Fish Meal)
Tepung ikan merupakan sumber protein yang sangat baik dalam ransum ternak dibandingkan dengan sumber protein pada pakan lainnya, sebab tepung ikan ini memiliki asam amino esensial yang komplek dan juga sebagai sumber mineral (Kalsium,Phospor) serta Vitamin, memiliki kadar protein berkisar 40-55%. Dalam pembuatan tepung ikan agar mendapatkan hasil yang baik harus diolah dengan sebaik mungkin mengikuti standar yang ada. Ikan segar yang baru diambil harus dipilih terlebih terdahulu dan dibersihkan, lalu ikan disteam (direbus) yang mana proses perebusan ini akan mengurangi kadar
air pada ikan. Setelah itu ikan di press hingga hancur dan diuraikan menjadi dua pengolahan, yang pertama diolah dalam bentuk cairan dan menghasilkan air/minyak menjadi minyak ikan, yang kedua diolah dalam bentuk residu yang dilakukan dengan cara pengeringan digiling dan menjadi tepung ikan.
Ada 4 jenis tepung ikan yang sangat berpengaruh pemberiannya sebagai pakan unggas, yaitu:
1. Ikan berdaging ; lemak rendah
2. Ikan berdaging ; lemak tinggi
3. Ikan sedikit daging ; lemak rendah
4. Ikan sedikit daging ; lemak tinggi
Ciri tepung ikan yang bagus biasanya berwarna kuning terang dan baunya tidak terlalu tengik, sedangkan kualitas yang jelek berwarna kecoklatan dan bau tengik.
Tepung ikan untuk unggas hampir tidak bisa ditinggalkan walaupun sedikit karena diketahui selain memiliki Asam Amino esensial yang lengkap terdapat faktor-faktor yang tidak teridentifikasi untuk pertumbuhan dan reproduksi. Pada tepung ikan yang memiliki kadar garam 15% tidak bisa digunakan karena garam tersebut bersifat Laxative (Kondisi dimana feses unggas akan cair/lembek yang bersifat lengket) hal ini akan menimbulkan rasa jijik konsumen pada telur yang lengket dengan kotoran tersebut). Kadar garapung ikan yang ideal adalah <3%. untuk starter. Direkomendasikan 10% untuk starter (anak ayam), 8% untuk finisher (broiler akhir) dan 4-6% untuk layer (petelur). 

2. Tepung Daging dan Tepung Daging Tulang (Meat Meal dan Meat Bone Meal) 
Meat meal didefenisikan sebagai bahan pakan kering dari semua produk yang didapat dari jaringan Mamalia, kecuali bulu, rambut, tanduk, kuku, darah dan isi perut. Tepung daging biasanya didapat umpamanya dari tulang dan jaringan ikan, seperti tendon, sisa daging yang melekat pada saluran pencernaan mulai dari rumen sampai sekum (usus buntu), paru dan hati. Karena bahan bakunya terdapat dari berbagai macam bagian, maka terdapat variasi dari tepung daging. Disebut Tepung daging apabila kandungan tulangnya 20-60% atau PK >55%, Phospor <4.4% dan disebut Tepung Daging Tulang apabila PK >55%, Phospor >4.4%. Protein mewakili daging dan phospor mewakili tulang. Walaupun proteinnya tinggi namun tidak bisa digunakan satu-satunya, karena protein yang didapat sebagiannya dari tulang, jaringan, katilando dan tendon yang biasanya tidak mengandung asam amio Triptopan, sehingga penggunaannya perllu dicampur dengan pakan sumber protein lainnya.

Di Indonesia penggunaan Tepung Ikan, Tepung Daging dan Tepung Daging Tulang sangat jarang ditemukan produsennya, mengingat efesiensi penggunaan bahan tersebut lebih sering di konsumsi masyarakat Indonesia. Negara penghasil tepung ikan terbesar diantaranya adalah Amerika, Peru, Argentina dan lain sebagainya.

3. Tepung Darah
Tepung darah secara sederhana didapat dari penggilingan darah kering dan biasanya untuk setiap 100 kg berat hidup ternak bisa menghasilkan 6 kg tepung darah, kandungan proteinnya sekitar 80%. Tepung darah kaya akan asam amino lysin, tetapi sangat defesiensi untuk asam amino isoleusin. Di Indonesia penggunaan tepung darah ini sangat efesien dilakukan.

4. Tepung Bulu Hydrolisa
Bulu hampir semuanya mengandung protein, sehingga kandungan proteinnya mencapai 90%, namun karena protein bulu utamanya dalam bentuk keratin yang hampir sama sekali tidak bisa dicerna oleh ternak, maka bulu tanpa perlakuan tidak dapat digunakan untuk bahan pakan. Untuk dapat dimanfaatkan sebagai pakan bulu-bulu tersebut harus di hydrolisis dengan cara memasak/memanaskan pada temperatur 146°C pada tekanan 3.2 atm/32 bar selama 30 menit. Dengan perlakuan ini akan menghasilkan tepung bulu yang kecernaannya sangat tinggi. Demikian juga dengan nilai biologisnya. Tepung bulu hydrolisa mengandung protein sekitar 85%. Tepung bulu kaya akan asam amino sistein namun defesien pada lysin, histidin, triptopan dan metianin.
Ada beberapa sumber protein asal hewan yang tidak jamak digunakan, namun untuk pengolahan ternak dalam sekala kecil penggunaannya terkadang dilakukan, yaitu pemanfaatan serangga, cacing tanah, dan keong-keongan sebagai pakan ternak.
a. Larva dan Puva Lalat
Biasanya dilakukan sebagai pakan ikan, larva dan puva yang menjadi hama penyakit bisa digunakan untuk pakan ternak dengan cara alas kandang diberikan baring dan mencelupkannya ke dalam kolam ikan tersebut.
b. Puva Ulat Sutra
Ini biasa digunakan untuk itik yang sangat potensial penggunannya karena mengandung protein 80%. Tepung puva ulat sutra dapat digunakan dengan baik dan bisa menjadi pengganti tepung ikan 80% ntuk starter (anak ayam). Tepung ini dapat meningkatkan efesiensi pakan, berat telur, produktivitas dan daya tetas telur.
c. Belalang
Kandungan protein belalang mencapai 76%, namun yang dapat dicerna 62%. Biasanya digunakan untuk pakan burung
d. Jangkrik
Jangkrik juga mempunyai potensi sebagai alternatif pakan ternak, proteinnya berkisar 58%, lemaknya 16%, dan seratnya 9%
e. Lebah
Setelah panen madu lebah yang mati atau larvanya bisa digunakan. Kandungan protein lebah 68%, namun kandungan asam amino lebih jelek dibandingkan dengan tepung ikan, pakan ini hampir sebanding dengan bungkil kedele.
f. Cacing Tanah
Cacing tanah sangat potensial dan mudah dikembangbiakkan pada umur 6-8 hari bisa bertelur, dalam 1 hari bisa menetas 1 anak. Proteinnya berkisar 60%. Asam amino sebanding tepung ikan , sehingga cacing dapat digunakan untuk menggantikan tepung ikan pada pemberian anak ayam, namun perlu diperhatikan keseimbangan kalsium dan phospornya
g. Keong-keongan
Penggunaan keong yang masih potensi khususnya di Provinsi Bengkulu adalah keong mas. Namun penggunaan untuk itik harus diperhatikan jaminan keberlanutannya. Karena itik sifatnya apabila pakan yang diberikan ia gemari dan pakan tersebut terputus pemberiannya maka itik tersebut akan ngambek (hehehhee……bisa ngambek juga yah,,UupSstttt…..!!!). ngambeknya tidak sebentar loh….bahkan berbulan-bulan, akibatnya menurunkan produktivitas telurnya. Ada cara yang efesien yaitu keong tersebut harus diproses terlebih dahulu keong emas yang diambil dikeringkan terlebih dahulu dan disimpan sehingga bisa kita perkirakan jumlahnya, namun untuk unggas tidak masalah. Yang perlu diperhatikan adalah kandungan asam sianida pada tubuh keong tersebut, setiap 1 ekor mengandung 70-90 mg asam sianida. Dan asam sianida ini bisa diminimalis dengan cara perebusan selama 15 menit. Protein daging keong mas berkisar 60%.



4 komentar:

  1. kalo menggunakan tepung darah, apakah aman bagi kesehatan ternak?
    apakah semua jenis ternak bisa diberi makanan jenis ini?
    mksh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penggunaan tepung darah biasanya diperuntukkan kepada unggas, penggunaannya disarankan 2 hingga maksimal 5%. tepung darah aman dikonsumsi, namun unggas kurang menyukainya. tepung darah sulit didapatkan mengingat untuk mengubah darah menjadi tepung butuh waktu dan tempat yang khusus. tepung darah biasanya diambil dari limbah pemotongan ternak. tepung darah ini kaya akan asam amino lysin serta protein kasar yang cukup tinggi berkisar 85%

      Hapus
  2. klo lebih dari 5% pemberian tepung darah untuk unggas bgaiamana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang pernah saya uji coba untuk ayam petarung di sarankan pemberiannya di atas 10% dan maksimal 25% untuk hasil yang memuaskan

      Hapus

Berikan komentar yang sopan yah, hehehe.... ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...