The introduction of livestock feed

Image by Hendro
Pengenalan berbagai bahan pakan ternak yang mana melakukan pengamatan terhadap ciri-ciri dari warna, bentuk, rasa, dan bau diupayakan agar kita dapat memahami dan mengenal kondisi bahan pakan ternak yang berkualitas baik dengan melihat dari ciri-ciri tersebut melalui indera manusia. Nah....di sini saya memberikan ccontoh berbagai bahan pakan ternak yang terdapat di Indonesia pada umumnya, baik bahan pakan sumber protein, energi, mineral, kalsium, dan lain sebagainya. Bahan pakan ini sudah saya amati dalam kegiatan praktikum mata acara "Bahan Makanan Ternak dan Formulasi Ransum". Berikut uraiannya : 






1. Tepung Ikan (Fish Meal)
Dari hasil kegiatan praktikum pada pengamatan tepung ikan terlihat bahwa kondisi tepung ikan masih cukup baik dengan melihat cirinya yang aromanya belum terlalu tengik dan warnanya belum memudar dari coklat tua. Kandungan pada tepung ikan bervariasi dari 46%-75%. Kandungan asam aminonya baik, banyak mengandung vitamin dan mineral, karena itulah tepung ikan memiliki harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan bahan makananlainnya (Rasyaf, 1994).Tepung ikan merupakan sumber protein yang sangat baik dalam ransum ternak dibandingkan dengan sumber protein pada pakan lainnya, sebab tepung ikan ini memiliki asam amino esensial yang komplek dan juga sebagai sumber mineral (Kalsium,Phospor) serta Vitamin, memiliki kadar protein berkisar 40-55%. Dalam pembuatan tepung ikan agar mendapatkan hasil yang baik harus diolah dengan sebaik mungkin mengikuti standar yang ada. Ikan segar yang baru diambil harus dipilih terlebih terdahulu dan dibersihkan, lalu ikan disteam (direbus) yang mana proses perebusan ini akan mengurangi kadar air pada ikan. Setelah itu ikan di press hingga hancur dan diuraikan menjadi dua pengolahan, yang pertama diolah dalam bentuk cairan dan menghasilkan air/minyak menjadi minyak ikan, yang kedua diolah dalam bentuk residu yang dilakukan dengan cara pengeringan digiling dan menjadi tepung ikan.
Ada 4 jenis tepung ikan yang sangat berpengaruh pemberiannya sebagai pakan unggas, yaitu:
1.       Ikan berdaging ; lemak rendah
2.       Ikan berdaging ; lemak tinggi
3.       Ikan sedikit daging ; lemak rendah
4.       Ikan sedikit daging ; lemak tinggi
Ciri tepung ikan yang bagus biasanya berwarna kuning terang dan baunya tidak terlalu tengik, sedangkan kualitas yang jelek berwarna kecoklatan dan bau tengik. Tepung ikan untuk unggas hampir tidak bisa ditinggalkan walaupun sedikit karena diketahui selain memiliki Asam Amino esensial yang lengkap terdapat faktor-faktor yang tidak teridentifikasi untuk pertumbuhan dan reproduksi. Pada tepung ikan yang memiliki kadar garam 15% tidak bisa digunakan karena garam tersebut bersifat Laxative (Kondisi dimana feses unggas akan cair/lembek yang bersifat lengket) hal ini akan menimbulkan rasa jijik konsumen pada telur yang lengket dengan kotoran tersebut).

2. Bungkil kopra (Cocos nucifera)
Berdasarkan hasil kegiatan praktikum, bungkil kopra yang merupakan hasil olahan dari proses pembuatan kopra dari kelapa yang mana termasuk dalam golongan sumber protein. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Rasyaf (1994) yang menyatakan bahwa bungkil kopra dalam ransum digunakan sebagai sumber protein dan berasal dari hasil ikutan dari pabrik minyak kelapa. Bungkil kopra berbentuk serbuk, berwarna cokelat, bau apek, rasa hambar dan zat antinutrisi yang dimiliki adalah mimosin.






3. Molasses
Molasses atau tetes merupakan by-product industri gula tebu (Saccharum officinarum) dan merupakan penggati biji-bijian yang penting. Molasses mengandung karbohidrat yang tinggi dan sangat palatable. Kandungan ME kira-kira 70% dari jagung. Ada dua type molasses, yaitu final atau blackstrap dan high-test. Final molasses mempunyai kandungan sedikit gula dan tinggi kandungan abu (terutama kalium). Sementara high-test molasses, baik berbentuk cairan maupun padatan digunakan sampai 30% dalam pakan unggas. Penggunaan level yang tingg pada final molasses akan menghasilkan permasalahan dan menyebabkan feses yang basah. Pada kegiatan pratikum terlihat bahwa mollases memiliki ciri bahan pakan yang cair/kental dengan warna hijau tua/hitam dengan aroma wangi.



4. Tepung Indigo (indigofera arrecta)
Pada kegiatan praktikum pengamatan tepung indigo (Indigo fera) terlihat bahwa tepung tersebut berupa biji indigo yang telah diekstrasi menjadi mash (tepung). Nilai protein tepung daun biasanya rendah berkisar ±5%. Namun penggunaannya dapat mempengaruhi kualitas ternak, maka dalam penyusunan ransum tepung indigo ini tak jarang digunakan.








5. Tepung daging tulang (Meat Bone Meal)
Dalam kegiatan praktikum pengamatan tepung daging tulang ini terlihat ciri warna yang kekuningan dengan aroma sedikit amis. Meat meal didefenisikan sebagai bahan pakan kering dari semua produk yang didapat dari jaringan Mamalia, kecuali bulu, rambut, tanduk, kuku, darah dan isi perut. Tepung daging biasanya didapat umpamanya dari tulang dan jaringan ikan, seperti tendon, sisa daging yang melekat pada saluran pencernaan mulai dari rumen sampai sekum (usus buntu), paru dan hati. Karena bahan bakunya terdapat dari berbagai macam bagian, maka terdapat variasi  dari tepung daging. Disebut Tepung daging apabila kandungan tulangnya 20-60% atau PK >55%, Phospor <4.4% dan disebut Tepung Daging Tulang apabila PK >55%, Phospor >4.4%. Protein mewakili daging dan phospor mewakili tulang. Walaupun proteinnya tinggi namun tidak bisa digunakan satu-satunya, karena protein yang didapat sebagiannya dari tulang, jaringan, katilando dan tendon yang biasanya tidak mengandung asam amio Triptopan, sehingga penggunaannya perllu dicampur dengan pakan sumber protein lainnya.
Di Indonesia penggunaan Tepung Ikan, Tepung Daging dan Tepung Daging Tulang sangat jarang ditemukan produsennya, mengingat efesiensi penggunaan bahan tersebut lebih sering di konsumsi masyarakat Indonesia. Negara penghasil tepung ikan terbesar diantaranya adalah Amerika, Peru, Argentina dan lain sebagainya.

6. Bungkil Bungkil inti sawit (Elaeis quinensis)
Pada kegiatan pengamatan bungkil inti sawit terlihat struktur bungkil yang masih ada komponen yang belum tergiling halus. Kondisi warna yang coklat tua dan aroma yang masih wangi menandakan bahwa bungkil inti sawit ini masih dalam kondisi bagus. Kualitas bungkil inti sawit bervariasi tergantung pada kandungan minyak bungkil inti sawit dan kontaminasi tempurung kelapa sawit. Kandungan minyak dalam bungkil inti sawit tergantung dari proses ektraksi minyaknya. Dalam hal ini penggunaan mesin ekspeller cenderung menghasilkan produk yang tinggi kandungan minyaknya.  Variasi kandungan minyak akan menyebabkan variasi nilai ME nya  berkisar 1525-2260 kkal/kg. Semakin tinggi minyaknya (6-1%) akan menghasilkan kandungan ME yang tinggi. Kontaminasi tempurung kelapa sawit akan menekan nilai gizi bahan pakan ini. Kandungan tempurung kelapa sawit ideal di bawah 10%.

7. Bungkil Kedelai (Glycine max)
Berdasarkan hasil kegiatan praktikum, bungkil kedelai termasuk dalam klasifikasi bahan pakan sumber protein, berbentuk serbuk, berwarna cokelat, bau apek, rasa hambar dan zat antinutrisinya berupa mimosin. Menurut Wahju (1997) bahwa bungkil kedelai memiliki kandungan zat nutrisi yaitu 4,9% abu, 16,6% lemak kasar, 60% serat kasar, 26,1% BETN dan 32,4% protein kasar. Rasyaf (1994) menambahkan bahwa protein yang terkandung oleh bungkil kedelai cukup tinggi sehingga dalam penyusunan ransum bungkil kedelai digunakan sebagai sumber protein. Kualitas bungkil kedelai tergantung pada proses pengambilan minyaknya, varietas kacang kedelai dan kualitas kacang kedelainya. Anti nutrisi yang terkandung dalam bungkil kedelai termasuk protease inhibitor, goitrogenic factor, dan oestrogenic compound. Pemanasan dapat merusak  protease inhibitor dan faktor lainnya tidak  menunjukkan kendala nutrisi dibawah penggunaan yang normal. Bungkil kedelai yang diproses dengan baik merupakan sumber potein yang sangan baik untuk semua kelas unggas, dengan penggunaan yang tidak terbatas.

8. Dedak Padi; Dedak kasar; Dedak Halus (Oryza sativa)
Pada kegiatan praktikum pengamatan dedak padi ini terdapat 3 jenis dedak yang ada, antara lain dedak halus, dedak kasar, dan dedak biasa. Hasil yang didapatkan selain beras, adalah bekatul padi (sebanyak 2-3%), dedak padi (6-8%), dan sekam (20%). Dedak padi adalah by-product utama yang didapatkan dari proses penggilingan padi. Bekatul, yang dihasilkan dari lapisan bagian dalam biji, lebih banyak penggunaannya dibandingkan dengan dedak. Hal ini karena kadar serat yang dikandungnya lebih rendah dan kandungan ME yang lebih tinggi. Namun demikian, ketersediaan bekatul sangat sedikit karena tidak semua penggilingan padi mengoperasikan mesin penggiling multiple-stage yang memisahkan bekatul dari dedak.
Komposisi kimia dedak padi sangat bervariasi. Variasi yang ada semata-mata disebabkan kontaminasi sekam yang terikut, dan ini biasanya disebabkan oleh jenis mesin penggiling. Dedak kualitas bagus mengandung sekitar 13% PK, 13% lemak, dan 13% serat dan kaya sumber vitamin B dan trace mineral. Nilai ME dedak padi, selain mengandung serat, relatif tinggi. Sementara itu, kandungan lemak yang tinggi harus diperhitungkan, dimana hal ini dapat menyebabkan masalah ransiditas (ketengikan) selama dalam penyimpanan di climat tropis. Dedak padi mengandung enzim lipolytic yang menjadi aktif ketika dedak dipisahkan dari beras dan kandungan asam lemak bebas meningkat dengan cepat.

9. Jagung ; Jagung Pipil; Jagung Giling Halus; jagung giling kasar; Corn Gluten Meal (Zea mays)
Pada kegiatan praktikum pengamatan jagung ini terdapat berbagai produk olahan jagung, seperti Corn Gluten Meal, jagung giling halus dan kasar, serta jagung pipil. Jagung Merupakan bahan pakan sumber energi yang paling umum digunakan untuk pakan unggas. Hal ini dikarenakan jagung sangat palatable dan sangat besar kandungan energinya. Nilai energi yang dapat dimetabolis (metabolisable energy, ME) yang terkandung dalam jagung digunakan sebagai standard terhadap bahan pakan sumber energi lain. Di Amerika utara, industri pakan telah diuntungkan dengan terjadinya surplus ketersediaan jagung sebagai akibat mekanisiasi, penerapan genetik, dan teknik agronomis yang diterapkan untuk meningkatkan produktifitas. Namun demikian, hasil jagung per hektar di negara Asia rendah dan produksinya belum pernah mencukupi kebutuhan sejalan dengan meningkatnya populasi manusia. Barangkali hanya Thailand di antara negara-negara Asia yang kemampuan produksinya melebihi dari kebutuhan lokal. Kandungan nutrisi jagung giling (dasar bahan kering) adalah 9,0% PK, 4,0% LK, 2,5 % SK, 1,5% Abu, dan 83% BETN, 0,02% Ca, dan 0,25% P, serta 3,45 kkal/g. Jagung kuning mempunyai kelebihan adanya xanthophil yang memberikan warna kuning pada produk-produk ternak. Corn gluten meal adalah produk olahan dari perusahan tepung jagung dan sirup jagung. Ini merupakan supplement yang baik untuk ternak, unggas dan hewan peliharaan. Nilai TDN-nya lebih sedikit dari pada jagung. The protein in corn gluten is degraded relatively slowly in the rumen. Varietas with 41 percent protein is available dalam berbagai area. Serat kasar tertinggi adalah (5 percent) dan terendah TDN-nya (78 percent) dari varietas dengan 60 percent protein. Corn gluten meal selalu tidak digunakan dalam campuran at levels besar dari 15 percent or feed at a rate greater than 15 percent or fed at a rate greater than 5 pounds (2 ¼ kg) per cow per day due to poor palatability above these levels.


10. Tepung Ubi Kayu/Cassava;Tepung onggok (Manihot esculenta)
Pada kegiatan pengamatan ini terdapat tepung ubi kayu dan tepung onggok. Ubi kayu merupakan bahan pakan yang rendah kandungan serat kasarnya namun tinggi kandungan patinya. Pati ubi kayu dapat dicerna baik oleh unggas, dengan kecernaannya sekitar 99%. Nilai energi metabolisnya dilaporkan sangat tinggi, sekitar 95-106 %, dibandingkan dengan energi metabolis yang ada pada jagung. Kendala yang paling utama penggunaan ubi kayu sebagai bahan pakan adalah kandungan Cyanogenic glucosides yang melepaskan asam cyanida (HCN) apabila dihidrolisa oleh glucisidase yang didapat dari dalam jaringan akar itu sendiri. Kisaran normal kandunga HCN dalam ubi kayu segar berkisar antara 15-400 mg/kg, yang mana kisaran tersebut dipengaruhi oleh cultivar ubi kayu. Untuk ubi kayu kultivar pahit kandungan HCN bisa sampai 275-490 mg/kg, sementara untuk kultivar manis berkisar antara 35-130 mg/kg.
Kandungan HCN diketahui 10 kali lebih tinggi pada kulit ubi dibandingkan ubi segarnya, maka pelepasan kulit ubi merupakan cara yang paling mudah untuk mengurangi kandungan HCN. Chopping yang diikuti dengan pengeringan ubi ubi kayu dapat menekan kandungan HCN sampai 85%.Penggunaan tepung ubi kayu untuk pakan unggas dapat digunakan sampai batas 10-20%. Beberapa faktor yang membatasi penggunaan tepung ubi kayu selain kandungan HCN adalah kandungan protein yang rendah (tidak lebih dari 3%), feed intake menjadi rendah karena bersifat bulky dan berdebu (tepung) dan tidak mengandung pigmen. Untuk dapat digunaka sebagai pakan seperti halnya jagung (menggantikannya), maka perlu langkah-langkah yaitu: suplementasi methionin, menyeimbangkan kandungan protein, pembentukan pellet, dan penamabahan pigment. Pembentukan pellet: pembentukan pellet akan mengurangi bulkiness suatu diet berbasis ubi kayu sekitar sepertiga, mengurangi masalah debu, dan meyakinkan feed intake yang optimum. Apabila tidak mungkin membentuk pellet karena peralatan yang tidak tersedia, penambahan mollases atau minyak dapat meningkatkan palabilitas dan intake. Onggok merupakan produk yang berasal dari proses pembuatan tepung ubi kayu ini sendiri. Di bidang peternakan onggok telah di kenal sebagai bahan makanan yang telah di olah dengan campuran berbagai bahan – bahan yang lain.namun persentase onggok paling banyak dalam campuran konsentrat.selain harganya yang relatife murah di bandingkan dengan bahan baku yang lain ,onggok sangat bagus untuk untuk perkembangan badan pada hewan.di Indonesia penghasil singkong terbesar adalah Provinsi Lampung

11. Top Mix; Suplement
Pada kegiatan pengamatan terhadap salah satu bahan additif mineral yaitu Top Mix dan Supllement. Top mix merupakan bahan pakan yang diproduksi oleh pabrik, dimana kandungan gizinya merupakan suatu konsentrasi zat gizi tertentu. Bahan pakan ini biasanya digunakan dalam jumlah sedikit untuk tujuan melengkapi atau mengkoreksi zat gizi yang diperkirakan kurang. Top Mix lebih berorientasi pada kelengkapan asam amino dan vitamin, sementara Suplement berorientasi pada kelengkapan suplementasi pada ternak.






12. Garam
Dalam pengenalan bahan pakan ternak terdapat bahan pakan yaitu garam. Garam merupakan sumber mineral bagi ternak yang mana penggunaannya dilakukan dengan pencampuran ransum pada ternak.

13. Tepung Tulang
Pada kegiatan pengamatan tepung tulang ini, tepung tulang memiliki ciri warna putih dan dengan tekstur yang halus. Tepung  tulang  adalah  bahan  hasil  penggilingan  tulang     yang telah dieks trak gelatinnya.Produk ini digunakan untuk ba han baku pakan yang merupakan sumber mineral (teruta ma kalsium) dan sedikit asam amino. Pembuatan tepung tulang merupakan upaya untuk mendaya gunakan limbah tulang yang biasanya tidak terpakai dan dibu ang di rumah pemotongan hewan. Hasil-ikutan  (by-products)  ternak  merupakan salah  satu  potensi  dari  subsektor  peter nakan  yang sampai saat ini masih  belum banyak  dimanfaatkan, khusus nya  untuk  industri  pangan.  Tulang,  tulang rawan  dan daging  dari  sisa  deboning  di  industri pangan  hasil  ternak  dan  rumah  pemoto ngan ayam adalah contoh hasil-ikutan  ternak  yang cukup besar peluangnya  untuk  dapat diolah  kembali  menjadi produk  baru  yang mempunyai nilai ekonomis  lebih tinggi. Tepung  tulang  berbentuk  serpihan  (tepung)  berwarna  coklat  dengan  teks tur yang kasar jika dirasakan, dengan aroma khas seperti daging sapi tapi ada juga yang tidak berbau. Sekilas memang hampir mi rip dengan  tepung MBM  tetapi kandungan nutrisiyang  dimiliki  jelas  berbeda.  Dalam  klasifikasi  bahan  pakan  tepung  tulang terma suk dalam kelas VI yang merupakan sumber mineral. Karena  tulang sapi kaya akan kalsium walaupun sedikit mengandung protein. 

Referensi :  
Anggorodi, HR. 1994. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Gramedia, Jakarta.
Budi Pratomo (1986). Cara Menyusun ransum ternak. Poultri Indonesia.
Hartadi H., Reksohadiprajo dan Tillman. 1993. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Lubis, DA. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan, Jakarta.
Netty L tobing.2010.Kandungan pakan ternak rumunansia.Manajemen dan teknologi.
Rasyaf, M. 1994. Makanan Ayam Broiler. Kanisius, Yogyakarta.
Soelistyono, HS. 1976. Ilmu Bahan Makanan Ternak Fakultas Peternakan dan Perikanan,Universitas Diponegoro, Semarang.
Tillman, Hartadi, H, Reksohadiprodjo, Praawirokusumo dan Lobdosoekodjo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Wahju, J.1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke-4. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
http://fajarub.blogspot.com/ (diakses tanggal 2 Juni 2012)
http://www.trobos.com/ (diakses tanggal 2 Juni 2012)
http://ingredients101.com/cgm.htm (diakses tanggal 3 Juni 2012)
http://www.nap.edu/ (diakses tanggal 3 Juni 2012)




10 komentar:

  1. terima kasih informasinya sob.
    hampir satu jam saya disini nyari informasi, maklum disini banyak info yang menarik,, bila ada waktu saya akan berkunjung kembali

    saya minta tolong untuk follow blog saya, dan nanti saya akan follow blog anda. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali atas kunjungannya.
      Follow sukses sob....

      Hapus
    2. hay mana artikel terbarunya ?

      Hapus
  2. Postingan menarik,ternyata Tepung Ubi Kayu dan Tepung onggok bisa juga dibuat pakan ya.
    Makasih infonya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tepung onggok juga bermanfaat sebagai bahan pakan pelengkap, namun penggunaannya harus dibatasi
      hehe....terima kasih sudah berkunjunga disini ^_^

      Hapus
  3. salam kenal, kunjungi balik ya :
    http://kubukakubaca.blogspot.com/ :)

    BalasHapus

Berikan komentar yang sopan yah, hehehe.... ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...