Perbedaan Mutu Hijauan


Pada dasarnya perbedaan mutu hijauan dipengaruhi oleh dua faktor, yakni sifat genetis (pembawaan) dan lingkungan.
1.       Faktor pembawaan
Di sini bisa dikemukakan suatu contoh, bahwa bangsa gramineae (bangsa rumput) mempunyai pembawaan yang berbeda dengan bangsa leguminose. Rumput memerlukan nitrogen yang diperoleh dari dalam tanah dengan jalan menghisap nitrat atau amonia yang larut dalam air. Sebaliknya leguminose menambahkan nitrogren ke dalam tanah, karena adanya bakteri- bakteri pada bintil-bintil akar. Leguminose umumnya kaya akan protein, Ca dan P bila dibandingkan dengan bangsa gramineae atau hijuan lain.
Dan sesama bangsa leguminose sendiri tidak akan memiliki mutu yang sama, masing-masing memiliki nilai gizi yang berbeda. Misalnya hijauan daun lamtoro lebih kaya akan unsur protein bila dibandingkan dengan daun turi, demikian selanjutnya.

2.       Faktor lingkungan
Faktor lingkungan mempunyai peranan sangat penting. Mutu yang ada pada setiap jenis hijauan yang diwariskan oleh sifat genetis, hanya mungkin bisa dipertahankan atau ditingkatkan apabila faktor lingkungan seperti keadaan tanah, iklim dan perlakuan manusia sendiri memadai 

a.      Keadaan tanah atau daerah
           Mutu hijauan makanan ternak, pada setiap tempat, akan berbeda menurut daerah atau jenis tanahnya. Hal ini masing-masing dipengaruhi oleh subur tidaknya tanah, kaya tidaknya unsur hara yang terdapat di dalamnya. Semakian tanah kaya akan unsur hara, semakin tanaman hijauan akan menjadi subur, bermutu dan berproduksi tinggi. Sebab zat-zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan bisa terpenuhi. Kesuburan tanah dapat dipelihara atau ditingkatkan dengan cara pengelolaan yang baik, termasuk pemberian pupuk hijau, kompos, pupuk kandang dan pupuk buatan.
  
       b.      Pengaruh iklim
             Indonesi terletak di daerah tropis, sehingga pada garis besarnya tak begitu banyak dipengaruhi oleh perubahan iklim, seperti halnya di daerah sub-tropis.Namun demikian, karena luasnya negara kita dan terdiri dari banyak pulau, maka dalam kenyataannya timbul perbedaa-perbedaan kondisi. Misalnya di daerah pantai dan pegunungan, bagian Timur lebih kering daripada bagian barat. Hal ini mengakibatkan pula perbedaan kondisi tanah serta vegetasinya. Sehubungan dengan keadaan iklim yang berbeda-beda ini dapat dicatat adanya : 

Iklim yang sangat basah
Daerah ini kurang baik bagi ternak. Hijauan yang dihasilkan kurang mengandung protein dan mineral, serta lebih banyak kadar seratnya tetapi bahan keringnya rendah. Apalagi bila tanaman ini pemotongannya lambat.

Di daerah yang tak begitu basah
Di daerah ini terdapat banyak padang rumput yang luas, rumput tumbuh tinggi dan pepohonan kurang. Daerah semacam ini dikena sebagai daerah sabana. Daerah inilah yang baik untuk mengusahakan peternakan. 

Daerah kering
Daerah yang beriklim kering hanya ditumbuhi oleh rumput pendek-pendek. Daerah ini dikenal sebagai daerah stepa atau hutan belukar. Di daerah yang beriklim kering ini matahari bersinar sangat terik, udara kering, cuaca terang, perbedaan suhu dalam sehari sangat menyolok, curah hujan kurang, walaupun kadang-kadang terdapat hujan lebat. Di sini ternak sering menghadapi kesulitan mendapatkan makanan dan air. Di daerah semacam ini usaha ternak akan lebih cocok dari pertanian khusus, misalnya di Madura dan Nusa Tenggara. Jika daerahnya kering lebih baik dipelihara sapi, atau daerah yang sangat kering kambing masih bisa bertahan.
Dengan demikian, secara tidak langsung, iklim dapat pula mempengaruhi kehidupan ternak. Iklim bisa menentukan jumlah serta mutu bahan makan. Di daerah basah, tanaman hijauan dewasa cepat cepat menjadi mundur mutunya. Kadar air hijauan terlalu tinggi, sehingga ternak tak cukup banyak mencari makanan yang kandungan bahan keringnya tinggi.

c.       Perlakuan manusia (management)
Perlakuan yang dimaksud disini ialah menyangkut pengaturan waktu pemotongan serta cara-cara pengelolaan yang baik dan teratur.
·          
      Pengaturan waktu pemotongan
Semakin lambat suatu tanaman itu dipotong, kandungan serta kasarnya akan semakin merosot, karena banyak zat makanan yang hilang, atau diubah menjadi buah/biji.
Demikian pula sebaliknya, apabila pemotongannya dilakukan agak awal atau dilakukan dalam interval pemotongan yang pendek, hijauan itu akan selalu dalam keadaan muda.
Hijauan muda kandungan proteinnya cukup tinggi, tetapi kadar airnya juga tinggi, sedangkan kandungan bahan keringnya rendah. Oleh karena itu perlu dipikirkan waktu pemotongan (defoliasi) yang optimal, sehingga nilai gizi hijauan tersebut cukup tinggi.

·         Cara pengelolaan yang baik
Semakin teratur cara pengelolaan suatu tanaman akan semakin baik pengaruhnya terhadap pertumbuhan, produksi, dan mutu hijauan. Pengelolaan tanaman hijauan yang dimaksud di sini adalah merupakan perlakuan manusia sendiri.

Diagram Pengaruh Lingkungan terhadap Tanaman Hijauan


Sumber (AAK;1983)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar yang sopan yah, hehehe.... ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...